All posts by Harsono

Profile photo of Harsono S.S M.Hum

About Harsono

Lahir besar dan dewasa di Waduk Mulur, Sukoharjo Selatan

RAGAM GAYA BAHASA

Gaya bahasa adalah cara mengungkapkan perasaan atau pikiran dengan bahasa sedemikian rupa, sehingga kesan dan efek terhadap pembaca atau pendengar dapat dicapai semaksimal dan seintensif mungkin.
Berikut adalah berbagai ragam gaya bahasa dan contoh penggunaannya dalam Bahasa Indonesia.

I. GAYA BAHASA PENEGASAN

1. Alusio
Gaya bahasa yang menggunakan peribahasa yang maksudnya sudah dipahami umum.
Contoh :

Dalam bergaul hendaknya kau waspada.
Jangan terpedaya dengan apa yang kelihatan baik di luarnya saja.
Segala yang berkilau bukanlah berarti emas. Continue reading RAGAM GAYA BAHASA

Ruang Lingkup Kajian Linguistik Umum (part 1)

Prawacana

Linguistik berarti ilmu bahasa. Ilmu bahasa adalah ilmu yang objeknya bahasa. Bahasa di sini maksudnya adalah bahasa yang digunakan sehari-hari (atau fenomena lingual). Karena bahasa dijadikan objek keilmuan maka ia mengalami pengkhususan, hanya yang dianggap relevan saja yang diperhatikan (diabstraksi). Jadi yang diteliti dalam linguistik atau ilmu bahasa adalah bahasa sehari-hari yang sudah diabstraksi, dengan demikian anggukan, dehem, dan semacamnya bukan termasuk objek yang diteliti dalam linguistik.

Linguistik modern berasal dari Ferdinand de Saussure, yang membedakan langue, langage, dan parole (Verhaar, 1999:3). Langue adalah salah satu bahasa sebagai suatu sistem, seperti bahasa Indonesia, bahasa Inggris. Langage berarti bahasa sebagai sifat khas manusia, sedangkan parole adalah bahasa sebagaimana dipakai secara konkret (dalam bahasa Indonesia ketiga istilah tadi disebut bahasa saja dan mengacu pada konsep yang sama). Continue reading Ruang Lingkup Kajian Linguistik Umum (part 1)

TINJAUAN DIAKRONIS BAHASA BIMA DAN BAHASA MASYARAKAT KEPULAUAN KOMODO (KAJIAN FONOLOGI)

Prawacana

Di tengah nusantara Indonesia, di perbatasan propinsi Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat, ada pulau kecil yang istimewa dan namanya Pulau Komodo. Setiap tahun, beribu-ribu wisatawan mengunjungi pulau itu karena satu sebab saja; mereka mau melihat kadal terbesar di seluruh dunia, naga Komodo atau ‘ora’ dalam bahasa setempat.

Karena penghasilan yang didapat oleh naga Komodo, pemerintah Indonesia dan pegawai Taman Nasional Komodo menetapkan banyak peraturan untuk melindungi satwa jenis tersebut. Di Indonesia jarang sekali ada situasi dimana perlindungan jenis binatang menjadi prioritas yang lebih tinggi daripada penyejahteraan komunitas. Jumlah penduduk Indonesia sangat besar dan tingkat ekonominya rendah jadi biasanya, kepentingan masyarakat lebih penting. Tetapi situasi ini berbeda.

Komunitas yang menderita adalah masyarakat kampung Komodo. Sementara peraturan Taman Nasional itu menjadi lebih keras, kebudayaannya terancam. Ancaman utama adalah peraturan itu, kekurang perhatian para wisatawan dan minimnya iklan mengenai tempat bersejarah Pulau Komodo, konflik dengan agama, struktur pendidikan, dan pengaruh kebudayaan orang yang berpindah-pindah. Akibatnya, hubungan karib antara orang kampung dengan naga Komodo dan juga bahasa, dongeng-dongeng, serta cara hidup yang unik mungkin akan hilang selama-lamanya. Continue reading TINJAUAN DIAKRONIS BAHASA BIMA DAN BAHASA MASYARAKAT KEPULAUAN KOMODO (KAJIAN FONOLOGI)

SASTRA JAWA KLASIK : macam, penggolongan, dan sinopsis-sinopsis serat sastra Jawa


Bagi masyarakat jawa, sastra merupakan karya yang tertata apik dalam bahasa yang indah (basa rinengga). Tak heran jika sastra jawa klasik tak hanya mengutamakan isi, tetapi keindahan bahasa juga menjadi perhatian sang pujangga. Karya sastra Jawa yang terlahir melalui pengolahan rasa dan laku tapa, disebut sebagai sastra adiluhung atau sastra yang memiliki tingkat apresiasi tinggi. Sastra adiluhung ini tak pernah lapuk dimakan usia, sarat sejumlah nilai simbolis, dan dikenang sepanjang masa lantaran sifat dulce et utile-nya (menyenangkan dan bermanfaat) bagi peradaban umat manusia.artikel lengkap unduh dsini serat-sastra-jawa-nukilan-sinopsis

Serat wirid Saloka Jati “sebuah pesan moral yang tersandikan”


Hadirnya serat Wirit Saloka Jati dalam khasanah budaya Jawa sebagai upaya para leluhur bangsa kita untuk menjabarkan keadaan jati diri kita. Sebagaimana kebiasaan leluhur nenek moyang kita, dengan tujuan agar supaya “kawruh lan ngelmu” lebih mudah dipahami para generasi penerus bangsa maka digunakanlah sanepa, saloka, kiasan, perumpamaan, dan perlambang. Dalam acara ritual atau upacara tradisi; perlambang, saloka, dan sanepa ini diwujudkan ke dalam ubo rampe atau syarat-syarat yang terdapat dalam sesaji. Continue reading Serat wirid Saloka Jati “sebuah pesan moral yang tersandikan”

(Serat Gatholoco & Darmogandul) VS (Etis & Estetis)

HADIR dalam khazanah sastra Jawa klasik bergenre suluk, kemunculan Serat Gatholoco dan Darmagandhul senantiasa penuh kontroversi. Dikecam habis-habisan lantaran dianggap sebagai karya yang melanggar norma, dan tabu, tapi sekaligus diburu meski hingga kini permanen menjadi karya bawah tanah. Benarkah kedua karya itu menampik asas etis dan estetis? Dimana letak ketabuannya ? Continue reading (Serat Gatholoco & Darmogandul) VS (Etis & Estetis)

Filsafat makna dari bagian-bagian Ubo Rampe sebuah ritual Jawa

Aura semiotika (ilmu tanda) dari macam-macam syarat (ubo rampe) dalam sebuah konsep ritual peringatan dalam masyarakat Jawa merupakan sebuah pesan yang tersandikan.Berangkat dari sebuah local genius , nenek moyang telah memberikan pesan-pesan yang terselubung, tinggal bagaimana kita mampu memahami dan memaknai dari tiap pesan yang “sengaja” dikirimkan oleh para leluhur untuk kita agar lebih mencintai dan mengambil manfaat dari hasil sebuah warisan budaya. tentang apa saja dan bagaimana makna dari Ubo Rampe berikut ulasannya Continue reading Filsafat makna dari bagian-bagian Ubo Rampe sebuah ritual Jawa

Analisis Komponen Makna (Semantik)

Komponen makna atau komponen semantik (semantic feature, semantic property, atau semantic marker) mengajarkan bahwa setiap kata atau unsur leksikal terdiri dari satu atau beberapa unsur yang bersama-sama membentuk makna kata atau makna unsur leksikal tersebut. Analisis ini mengandaikan setiap unsur leksikal memiliki atau tidak memiliki suatu ciri yang membedakannya dengan unsur lain…klik disini semantik (komponen makna)

PERBANUS semt 7

Ilmu Perbandingan Bahasa Nusantara merupakan cabang kajian linguistik yang membahas topik bahasa-bahasa nusantara yang berkerabat dalam rumpun bahasa austronesia. Terminologi bahasa nusantara mengacu pada nama rumpun bahasa yang terdapat di kawasan Asia Tenggara Pasifik. Studi bahasa nusantara pada mata kuliah ini terfokuskan pada kajian linguistik.Secara historis kajian Ilmu Perbandingan Bahasa Nusantara bersumber awal pada kajian rumpun bahasa dan diawali dengan kajian linguis terhadap Rumpun Indo-Eropa (IE) yang kaya akan dokumen tuanya. Dalam Ensyclopediae of Language, Crystal menjelaskan pengertian tentang Rumpun Bahasa dan rumpun bahasa-bahasa kerabat di dunia dengan aneka informasi yang rinci. Mata kuliah ini juga membahas hakikat, konsep, dan metode dalam penelitian ilmu perbandingan bahasa nusantara sehingga mahasiswa dapat memahami dan menerapkan perbandingan bahasa-bahasa nusantara. Perkuliahan Ilmu Perbandingan Bahasa Nusantara di bidang teori membahas topik-topik pilihan yang dimaksudkan untuk menambah dan melengkapi wawasan pengetahuan serta pemahaman peserta kuliah IPBN. Bidang kajian IPBN yang termasuk bidang linguistik murni ini bermanfaat untuk membuka dan memperluas wawasan peserta tentang studi linguistik yang lebih komprehensif tidak sekadar hanya akan melengkapi pengetahuan di bidang kajian tersebut yang pada hakikatnya berbeda dengan kajian linguistik struktural, sosiolinguistik atau etnolinguistik. Klik disini materi perbanus