Alih Kode dan Campur Kode dalam Dagelan Jawa Basiyo (KAJIAN SOSIOLINGUISTIK)

Prawacana

Linguistik sebagai ilmu bahasa memiliki berbagai cabang. Cabang-cabang itu diantaranya adalah fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, pragmatic, sosiolinguistik dsb (Wijana, 1996: 1). Sosiolinguistik ialah studi atau pembahasan dari bahasa sehubungan dengan penutur bahasa itu sebagai anggota masyarakat. Sosiolinguistik mempelajari dan membahas aspek-aspek kemasyarakatan bahasa, khususnya perbedaan-perbedaan (variasi)yang terdapat dalam bahasa yang berkaitan dengan faktor-faktor kemasyarakatan (sosial). Menjadi sangat menarik ketika sebuah bahasa, di analisa menurut kultur kemasyarakatan penggunanya, hingga pada faktor variasi bahasa yang muncul diakibatkan latar belakang penggunanya. Penyelesaian kajian mengenai bahasa tidak hanya cukup sampai pada tataran terkecil mnyangkut fonologi dan sintaksis, melainkan dapat melalui celah dan lapisan yang lebih luas yaitu melalui pendekatan sosiolinguistik, ketika menyangkut masyarakat penggunanya. Dalam tulisan ini ini, mencoba mengungkapkan sejauh mana pendekatan analisa sosiolinguistik dalam mengkaji bahasa dalam situasional humor. Dalam penelitian ini, akan mengkaji kepragmatikan dalam berbahasa yang dilakukan pelawak. Berdasarkan alasan bahwa, humor pada hakikatnya adalah penyimpangan aspek berbahasa untuk memperoleh kelucuan yang membuat pendengar tertawa. Seorang pelawak dituntut untuk dapat mengeluarkan ujaran-ujaran yang dapat membuat tertawa pendengarnya, hal ini disadari atau tidak penggunaan diksi dan ungkapan disampaikan menarik dan tidak membosankan. Para pelawak dituntut mampu membuat pendengar terhibur dan mengeluarkan rasa humor (tersenyum, tertawa, gembira, bahagia). Humor terbentuk karena adanya suatu perilaku budaya permainan atau manipulasi unsur-unsur bahasa tertentu, baik yang dilakukan secara verbal maupun acuan tertentu. Humor sebagai suatu rangsangan menimbulkan efek estetis, humoristis, dan fungsional menurut pemakainya (Wijana, 1996:3-16). Bahasa merupakan salah satu sarana yang dimanfaatkan dalam humor untuk menciptakan atau mengkreasikan kelucuan. Bahasa yang mengandung humor dikatakan bahasa lawakan. Istilah lawakan dalam bahasa Jawa adalah ndhagel. Situasinya diistilahkan dagelan, di samping istilah yang lain dalam bahasa Jawa yaitu lawak, uyon-uyon, guyon maton. Dalam penelitian ini menggunakan istilah dagelan, dikarenakan istilah tersebut lebih umum digunakan oleh para pelaku kesenian lawak Jawa. Kedudukan dagelan dalam seni pertunjukan masyarakat Jawa sangatlah vital. Hal ini terbukti dalam setiap seni pertunjukan yang dikenal masyarakat Jawa: ketoprak, ludruk, wayang kulit, wayang orang, selalu terdapat babak tersendiri yang khusus disediakan untuk dagelan. Menurut Yohanes Sutopo (2006) dagelan adalah semacam komedi tradisional Jawa dan berkembang menjadi seni pertunjukan yang berdiri sendiri: seperti Kirun Cs, dan di masa lalu terdapat dagelan yang sangat legendaris: sang maestro Basiyo, juga terdapat lawakan Junaidi Cs, dan di Jawa Timur terdapat ludruk Kartolo dkk. Perkembangan tersebut telah melahirkan pula banyak seniman dagelan Jawa yang mempunyai nama besar. Berdasarkan tahun ketika karir mereka melambung di antaranya adalah : Basiyo, Peyang Penjol, Padmo Kapuk, Ngabdul, Harjo Gepeng, Gito-Gati, Badhempo, Kartolo ‘dekade 80 an’; Asmuni, Nur Buat, Timbul, Tarzan, Jujuk, Bagiyo, Kolik, Kirun ‘dekade 90 an’ ; Mamiek Prakosa, Tessy, Basuki, Gogon, Topan dan Lesus dll.’dekade tahun 2000’ (<Http//wakweb.com/search/web/dhagelan basiyo>. diakses tanggal 7 November pukul 20.00 WIB). Pelawak-pelawak yang lahir dari komunitas ketoprak tersebut, satu yang menjadi legenda dan sebagai contoh, panutan, serta barometer kiblat para pelawak masa selanjutnya, yaitu Basiyo (<Http//Minggupagi.com>. diakses tanggal 7 November pukul 20.00 WIB).

Basiyo adalah pelawak dari Yogyakarta. Dalam penjelasan Sunardian Wirodono, fans berat Basiyo, pelawak Basiyo mampu melintasi batas ruang dan waktu. Meski mungkin bagi sebagian besar Indonesia tidak mengetahui siapa itu Basiyo, namun mereka yang berlatar Jawa (Mataram) relatif mengenalnya. Tidak peduli orangtua, orang muda, orang kota, orang desa, orang berpendidikan dan tidak. Basiyo dipercaya meninggal dalam usia 70-an yakni pada tahun 1984. Jadi, kira-kira, beliau kelahiran 1910-an. Basiyo sebagai tokoh seniman dagelan Jawa. Kepiawaiannya dalam hal joke-joke kelucuan, mampu membuat pendengar tersenyum, tertawa, dan berbahagia sehingga menempati perannya sebagai seorang pelawak yang mampu memberikan hiburan. Ketrampilan Basiyo dalam memproduksi ujaran membawa dirinya dalam jajaran pelawak Jawa, kredibilitasnya tidak diragukan, terbukti banyak rumah produksi perekaman yang merekam dan mengedarkan lawakan-lawakan Basiyo dalam bentuk kaset. Pola-pola lawakan Basiyo juga sering digunakan, diadaptasi, dan dimodifikasi oleh para pelawak generasi selanjutnya. Sepak terjang Basiyo dalam karirnya, telah menjadikan beliau sebagai ‘legenda’ dalam dagelan Jawa. Penelitian ini mencoba menempatkan analisis sosiolinguistik dalam mengkaji bahasa dalam konteks sosial dan kebudayaan serta menghubungkan faktor-faktor kebahasaan, ciri-ciri, dan ragam bahasa dengan situasi serta faktor-faktor sosial dan budaya dalam dagelan Basiyo.

PEMBAHASAN

Rasa humor terkait dengan kemampuan untuk mengerti suatu kelucuan, semua kelucuan dapat dirasakan pada diri kita sendiri. Humor merupakan penyimpangan pola tuturan, antara yang biasa dan yang tak terduga. Pemanfaatan tipe-tipe humor yang digunakan Basiyo, membentuk fungsi bahasa Jawa sebagai sarana pencapaian humor selain kedudukan bahasa sebagai sarana komunikasi. Gejala-gejala yang terjadi pada reaksi pendengar ketika Basiyo bertutur dalam konteks dagelan (tersenyum, tertawa, dan gembira) diidentifikasi sebagai sebuah proses dari kecerdikan dan kepintaran seorang pelawak (Basiyo) dalam memilih dan memilah kosa kata untuk diwujudkan dalam bahasa yang mengandung tuturan humor. Seorang pakar budaya Jawa, Prof. Dr. Poerbadjaraka mengatakan dengan humor kita dibuat tertawa, sesudah itu kita disuruh pula berpikir merenungkan isi kandungan humor itu, kemudian disusul dengan berbagai pertanyaan yang relevan dan akhirnya kita disuruh bermawas diri. Humor bukan hanya berwujud hiburan, humor juga suatu ajakan berpikir sekaligus merenungkan isi humor itu.
Basiyo melawak menggunakan bahasa Jawa. Selain itu kadang-kadang juga menyelipkan bahasa Indonesia sebagai pencapaian humor. Appel (1976:79) mendefinisikan alih kode itu sebagai gejala peralihan pemakaian bahasa karena berubahnya situasi. Berbeda dengan Ampel yang mengatakan alih kode itu terjadi antarbahasa, maka Hymes (1975:103) menyatakan alih kode itu bukan hanya terjadi antarbahasa tetapi dapat juga terjadi antara ragam-ragam atau gaya-gaya yang terdapat dalam satu bahasa.

Alih kode yang berwujud alih bahasa cukup banyak ditemukan dalam situasional dagelan Basiyo. Alih kode yang berupa alih bahasa itu mencakup peralihan dari Dalam tingkat bahasa, pencapaian humor ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan penyimpangan tata bahasa. Alih kode, campur kode, dan tidak digunakannya tata bahasa secara benar digunakan Basiyo untuk membuat kelucuan. Misalnya:

(1) F (figuran) : Kula badhe pados pedamelan pak.

B : Golek gaweyan?

F : Kok malah mirsani mawon ta pak.

B : Kasihan. Mendhalem kata-katamu, mendhalem kata-katamu

F : ‘Saya mencari pekerjaan pak.’

B : ‘Mencari pekerjaan?’

F : ‘Mengapa bapak memperhatikan saya.’

B : ‘Kasihan. Mendalam kata-kata kamu, mendalam kata-katamu.’

(2) B : Kowe mbiyen basa saiki ya wis ora, njut ilang ketitelanku.

‘Kamu dahulu berbicara sopan, sekarang tidak, lalu hilang martabatku.’

(3) B : Awake dhewe saiki ki kesiku ing mrih.

‘Kita sekarang sedang susah karena perbuatan sendiri.’

Data (1) dan (2), merupakan penyimpangan tata bahasa dengan memanfaatkan campuran antara bahasa Jawa dengan bahasa Indonesia yang ditambah pemakaian kata yang salah. Pendengar akan menangkap kesalahan pemakaian kata dan campuran bahasa itu sebagai sesuatu yang tidak umum atau nonkonvensional di dalam percakapan, sehingga menimbulkan keanehan dalam bertutur yang menyebabkan dan menciptakan kejanggalan dalam pikiran pendengar, hingga berakhir dengan lahirnya kelucuan atau tawa pendengar. Tuturan dalam data (2) ketitelanku ‘martabatku’ dan data (3) kesiku ing mrih ‘mengalami kesusahan karena perbuatan sendiri’ merupakan bentuk penggunaan bahasa Jawa yang tidak lazim, dikarenakan pencampuran tingkat tutur dalam bahasa Jawa. Tuturan (B) tersebut menimbulkan keanehan dan kejanggalan dalam berbahasa. Sejalan paradigma pimpinan Srimulat4, Teguh Raharjo bahwa lucu adalah aneh dan aneh adalah lucu (Gong, Edisi 83/VIII/2006 :8-9). Penggunaan alih kode, campur kode, dan interferensi bahasa dalam tuturan Basiyo menimbulkan keanehan serta kejanggalan dalam pola bertutur.

Hal ini lebih didasarkan pada tujuan Basiyo untuk membuat kelucuan dari tuturan tersebut. Hal ini mengindikasikan bahwa dalam tuturan Basiyo, bahasa berfungsi untuk mengekspresikan diri dan bahasa sebagai sarana informatif. Jika dihubungkan fungsi pemakaian bahasa dalam konteks dagelan, fungsi tersebut bertindak untuk membangun atau sebagai sarana pencapaian kelucuan. Tidak dipungkiri bahwa hal perkodean adalah masalah yang penting untuk diteliti dalam linguistik. Hal demikian disebabkan oleh kenyataan bahwa ihwal kode itu sulit dan rumit untuk dicermati. Dikatakan rumit karena ihwal kode itu berkaitan erat dengan konteks situasi, yakni suasana yang mewadahi kode itu sendiri. Suasana yang dimaksud mencakup dua hal yaitu seting sosial dan seting kultural (Rahardi, 2001:2). Penggunaan alih kode dan campur kode di dalam humor Basiyo dengan maksud membangun rasa aneh, janggal dan sarat humor, hal ini juga berkaitan dengan setting social dan pemahaman penikmat humornya mengetahui dan menginferensikan humor. Seorang pendengar atau penikmat humor dengan latar belakang yang berbeda dengan pelawak, atau misalnya pendengar tidak mampu memahami tentang ragam tingkat tutur dalam bahasa jawa, tentu saja data (3) diatas menjadi tidak mempunyai kekuatan humor bagi pendengarnya.

Kebebasan seorang pelawak dalam membuat dan merangkai tuturan mempunyai akibat dalam struktur bahasa yang non-konvensional. Hal ini pula yang membuat tuturan pelawak Basiyo kadang terkesan janggal dan aneh, dengan faktor kesengajaan penutur untuk membuat tertawa pendengar, misalnya dalam data alih kode berikut :

(4) B : kethoprak niku anggeripun ratu, patih lan kongkonan.

F : Lha sing nabuh gamelan ?

B : Ha mangke, lak cekap cangkem kemawon.

B : ‘ketoprak itu kan yang penting ada raja, patih, dan ajudan.’

F : ‘Yang memainkan musik gamelan ?’

B : ‘Hal itu mudah, cukup menggunakan mulut saja.’

Dalam data diatas terjadi settting penokohan, bahwa Basiyo menjadi orang yang berada pada kelas sosial lebih rendah dibanding F (figuran, yang membantu Basiyo dalam melawak), di tunjukkan dalam tuturan Basiyo yang menggunakan ragam tingkat tutur krama pada awalnya, hingga pada kata yang dicetak tebal ‘cangkem’ (mulut) , merupakan ragam ngoko. Apabila Basiyo tetap mempertahankan konvensional tingkat tutur, yang mana kata cangkem seharusnya tutuk, tentu tuturan basiyo tidak bermuatan humor. Pemanfaatan alih kode tersebut dilakukan dengan sengaja untuk memperoleh joke power ‘kekuatan humor’. Dalam alih kode, penutur mengganti bahasa yang digunakannya ke kode yang lain (termasuk ragam) karena pertimbangan (1) lawan bicara. (2) penutur sendiri, (3) hadirnya penutur ketiga (misal orang Jawa sama orang Jawa terus datang orang ketiga dari Sumatra maka mereka alih kode ke bahasa Indonesia), (4) menimbulkan rasa humor, atau (5) meningkatkan gengsi.

Penggunaan bahasa yang non konvensional dalam tataran campur kode ditunjukkan dalam data berikut :

(5) B : Pancen gumyak rasane, lha wong ya pas. Ngrungokke radhio setor-setor… transtor.

‘Sungguh bahagia rasanya, sangat pas. Mendengarkan radio setor-setor [radio transistor].’

(6) B: Gilo sakomong-omongmu kupingku ora takkoi kapuk, omonganmu ki mesthi siar-siur..tumpang siur.

‘Lihat semua yang kamu bicarakan, telinga tidak saya tutupi kapas. Semua yang kamu katakan pasti siar-siur..tumpang siur [simpang siur].’

Data (5) (6) mempunyai tipe yang sama dalam klasifikasi tipe humor, merupakan humor plesetan (puns), hal ini nampak pada tuturan (B) pada kata yang dicetak tebal merupakan sebuah plesetan. Tuturan (B) data (5) ‘setor-setor’ maksudnya adalah merujuk pada radio transistor. Tuturan tersebut menjadi bermakna humor, karena (B) kesalahan dalam mengucapkan kata ‘radio transistor’ dengan memlesetkannya menjadi ‘setor-setor’. Merujuk maksud dari tuturan Basiyo setor setor ‘radio transistor’, dapat diperoleh bahwa tuturan basiyo tersebut merupakan code mixing ‘campur kode’ yang semata dilakukan basiyo dengan menambahkan aksentuasi gaya pengucapan yang salah. Pada data (6) yang dicetak tebal siar siur , juga merupakan pencampuran bahasa dari bahasa jawa ke bahasa Indonesia, jika merujuk maksud tuturan bahwa siar siur..tumpang siur adalah ‘simpang-siur’ (bahasa Indonesia). Dalam data-data di atas semata-mata untuk membuat tuturan humor agar mampu membuat pendengar tertawa. Apabila ditelusuri penyebab terjadinya alih kode dan campur kode tersebut, sejalan pendapat Fishman (1976:15) yaitu siapa yang berbicara degan bahasa apa, kepada siapa, kapan dan dengan tujuan apa, maka pokok persoalan sosiolinguistik seperti yang dikemukaan dalam berbagai kepustakaan linguistik secara umum penyebab alih kode itu disebutkan antara lain: (1) pembicara atau penutur, (2) pendengar atau lawan tutur, (3) perubahan situasi dengan hadirnya orang ketiga, (4) perubahan dari formal ke informal atau sebaliknya dan (5) perubahan topik pembicaraan. Di samping lima hal di atas yang secara umum lazim dikemukakan sebagai faktor terjadinya alih kode dan campur kode, masih banyak faktor atau variabel lain yang dapat menyebabkan terjadinya peristiwa alih kode dan campur kode. Penyebab-penyebab ini dapat berkaitan dengan faktor ketidaksengajaan dan faktor kesengajaan. Dalam dagelan Basiyo, penulis menemukan penyebab terjadinya alih kode dan campur kode, lebih berdasarkan pada kesengajaan atau keinginan penutur untuk memberikan kekuatan humor pada tuturannya, maka alih kode dan campur kode yang terjadi dapat berupa peralihan varian, ragam, gaya atau register.

Simpulan

Kebebasan penggunaan bahasa yang dilakukan oleh para pelaku humor untuk menghasilkan tuturan yang memiliki kekuatan humor ‘joke power’, memberikan variabel baru dalam tingkat distribusi bahasa. Hal ini berpengaruh terhadap alasan dalam permainan kata kata yang memiliki unsur alih kode dan campur kode yang dilakukan seorang pelawak semata-mata dilakukan dengan faktor kesengajaan penutur untuk membuat tawa pendengarnya. Pencampuran bahasa atau perpindahan kode bahasa yang dilakukan pelawak, meskipun dapat dikatakan sebagai tuturan yang aneh, janggal, dan non konvensional, justru hal inilah yang diharapkan. Semakin aneh, janggal, dan kurang berterimanya secara konvensional joke ‘lawakan’ pelawak, semakin mampu memberikan aksen humor dalam tiap tuturannya, sehingga mampu membuat pendengar tertawa karena keanehan dan kejanggalan tuturan yang bercampur campur.


4Salah satu ‘legendaris’ kelompok kesenian ketoprak Jawa yang mengusung humor di dalam pementasannya.

Referensi

Appel, Rene,et all. 1976. Sosiolingustiek. Utrecht-Antwerpen: Het Spectrum.

Abdul Chaer. 1994. Linguistik Umum. Cetakan I. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Bloomfield, Leonard. 1933. Language. New York: Hold, Rinehard and Winston.

Crystal, David. 1989. The Cambridge Ensyclopedia of Language. Cambridge: Cambridge University press.

Fishman, JA. (Ed.). 1976. “The Relationshrip Between Micro and Macro Sosiolinguisc in The Study Who Speaks What Language To Whom and When”. dalam Pride dan Holmes (Ed.) 1976:15-32.

Rahardi, Kunjana. 2001. Sosiolinguistik, Kode dan Alih Kode. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.

Suwito. 1983. Awal Pengantar Sosiolinguistik, Teori dan Problema. Surakarta: Heary Offset.

3 thoughts on “Alih Kode dan Campur Kode dalam Dagelan Jawa Basiyo (KAJIAN SOSIOLINGUISTIK)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>